Thursday, March 17, 2016

Efektifitas Metode Learning By Doing Untuk Pengembangan Emotional Intellegence (Part 3)

a.      Emotional Intellegensi
1)    Definisi Emotional Intelligence
Menurut Salovey dan Mayer, emotional intelligence yaitu himpunan kecerdasan sosial untuk memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.[1]
Menurut Baron sebagaimana dijelaskan oleh Goleman, emotional intelligence adalah serangkaian kemampuan pribadi, emosi dan sosial yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi tututan  dan tekanan lingkungan.[2]
Setelah mempelajari beberapa pengertian diatas maka peneliti menyimpulkan bahwa emotional  intelligence adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.
2)    Faktor-faktor Emotional Intelligence (EI)
Faktor yang mempengaruhi emotional intelligence anak yang pertama adalah faktor internal yaitu berasal dari dalam diri anak itu sendiri. Kemudian yang kedua adalah faktor eksternal yaitu berasal dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan sosial masyarakat (sistem sosial).
a)      Faktor pertama, faktor  yang berasal dari dalam diri anak itu sendiri (internal).
Goleman menjelaskan bahwa faktor internal dipengaruhi oleh keadaan otak emosional seseorang, ketika bagian-bagian otak yang memungkinkan merasakan otak emosi (amigdala) rusak, kemampuan rasional (intelek) tetap utuh. Ketika seseorang dalam kondisi traumatis, dengan rusaknya otak emosi, ia masih dapat berbicara, menganalisa, bahkan dapat memprediksi bagaimana ia harus bertindak dalam situasi. Tapi dalam keadaan tragis, yang demikian itu anak tidak dapat berinteraksi dengan orang lain secara layak sehingga rencana yang telah disusun tidak dapat dijalankan.[3]
b)      Faktor kedua yaitu  faktor  eksternal atau yang berasal dari luar diri manusia.
Faktor dari luar yang mempengaruhi emotional intelligence anak antara lain lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan sosial masyarakat (sistem sosial).
Muhammad  bin  Ibrahim  Al-Ahmad mengatakan apabila seorang anak berada pada pedidikan rumah dengan akhlak yang buruk, dan berada pada pendidikan  yang  keliru, maka anak tersebut akan tumbuh dan berkembang dengan kepribadian yang rendah.[4]
Lingkungan keluarga merupakan tempat pertama seorang anak mendapatkan pendidikan. Kurangnya pendidikan di lingkungan keluarga akan menyebabkan seorang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang buruk. Anak yang broken home sering kali memiliki prilaku yang lebih buruk dari pada anak yang lingkungan keluarganya harmonis.
Selanjutnya yaitu lingkungan sekolah. Menurut  Etzioni, yang dukutip oleh Goleman menyatakan bahwa sekolah berperan sentral dalam membina karakter dengan menanamkan disiplin diri dan empati, yang pada gilirannya memungkinkan keterlibatan tulus terhadap nilai peradaban dan moral.[5] Sekolah adalah tempat bagaimana seorang anak itu beradaptasi dengan lingungan sekitarnya dan berinteraksi dengan teman sebayanya. Disnilah seorang anak akan mengasah kemampuan emosi mereka.
Faktor eksternal yang selanjutnya yaitu lingkungan sosial masyarakat (sistem sosial). Lingkungan sosial masyarakat  merupakan tempat dimana seorang anak bisa  berinteraksi dengan  orang lain. Linkungan sosial juga mempengaruhi perkembangan psikis dan mental anak. Jika lingkungan yang  mereka  tempati  itu  merupakan  pemukiman  yang  tinggi tingkat kriminalitasnya, maka seorang anak akan lebih gampang tergoda berbuat jahat dan kejam, begitupun sebaliknya.[6] Dengan demikian maka dapat dipahami pentingnya lingkungan sosial masyarakat yang baik dalam membentuk kecerdasan emotional atau emotional intelligence, dalam arti mendukung perkembangan anak agar mempunyai kecerdasan emosi yang positif.
Dari pemaparan diatas dapat peneliti simpulkan bahwa emotional intelligence atau kecedasan emosional dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari diri sendiri (internal) dan dari luar (eksternal).
3)    Indikasi-indikasi Emotional Intelligence (EI)
Indikasi yaitu tanda-tanda yang menarik perhatian atau petunjuk.[7] Indikasi-indikasi Emotional Intelligence yaitu tanda-tanda seseorang memiliki kecerdasan emosional.


Goleman mengutip dari Salovey mengemukakan lima indikasi emotional intelligence yaitu:
a.      Mengenali Emosi Diri
Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari Emotional Intelligence, para ahli psikologi menyebutkan kesadaran diri sebagai metamood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Menurut Mayer kesadaran diri adalah waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi, namun merupakan salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga individu mudah menguasai emosi.[8]
b.      Mengelola Emosi
Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam  menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi. Emosi berlebihan, yang meningkat dengan intensitas terlampau lama akan mengoyak kesetabilan kita. Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.[9]
c.       Memotivasi Diri Sendiri
Presatasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi  dalam diri individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu antusianisme, gairah, optimis dan keyakinan diri.[10]
d.      Mengenali Emosi Orang Lain
Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Menurut Goleman kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli, menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.[11]
e.       Membina Hubungan
Kemampuan  dalam  membina  hubungan  merupakan  suatu keterampilan yang menunjang popularitas,  kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi.[12] Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina hubungan. Individu sulit untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dan sulit juga memahami keinginan serta kemauan orang lain.[13]
b.      Efektifitas Metode Learning by Doing untuk Pengembangan Emotional Intellegence
Metode learning by doing artinya adalah metode pengajaran dengan cara siswa diajak untuk melakukan, melihat, mendengar, merasakan secara langsung objek yang sedang dipelajari, dengan kata lain mempraktekkanya, sehingga siswa benar-benar memahaminya.
Dengan metode Learning by Doing, siswa mampu untuk menvisualkan hal-hal yang abstrak dan juga melatih berfikir kritis bagi siswa. Jadi penerapan metode Learning by Doing dalam pembelajaran akan mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada materi sosial emosional.
Emotional  Intelligence adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.
Emotional  intelligence  mencakup kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain yang didalamnya terjadi berbagai hal yang perlu disikapi dengan bijaksana. Kemampuan tersebut tidak serta merta muncul dengan sendirinya. Perlu suatu pendekatan-pendekatan yang mengarah pada penerapan hubungan dengan orang lain.
Diantara pendekatan yang paling sesuai untuk anak usia pra sekolah adalah dengan menerapkan metode yang melibatkan antar peserta didik untuk bersama-sama belajar. Berawal dari penerapan metode tersebutlah anak akan terbiasa berinteraksi dengan temannya.
Penerapan metode learning by doing merupakan metode yang tepat untuk mendorong anak terbiasa berhubungan dengan temannya. Sebab penerapannya menuntut anak bersama temannya bekerja sama memahami apa yang menjadi materi pembelajaran.
1.      Hipotesis
Berangkat dari uraian di atas, maka peneliti merumuskan jawaban sementara yang biasa disebut hipotesis.[14]  Adapun hipotesis peneliti rumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Penerapan metode learning by doing efektif dalam mengembangkan emotional intellegence siswa di Raudlatul Athfal Maslakul Falah desa Arumanis  Kec. Jakenan Kab. Pati Tahun Pelajaran 2014/2015


[1] Lawrence E. Saphiro, 8.
[2] Daniel  Goleman,  Working  With  Emotional  Intelligence,  (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2005), 180.
[3] Daniel Goleman, 20.
[4] Muhammad bin Ibrahim Al-Ahmad. Akhak-akhlak Buruk. Terj. Cet 1. (Bogor: Pustaka Darul Ilmi, 2007), 82.
[5] Goleman,  407.
[6] Goleman, 337.
[7] http://kbbi.web.id/indikasi, 12/4/2014.
[8] Goleman, 64
[9] Goleman, 42.
[10] Goleman, 48.
[11] Goleman, 58.
[12] Goleman, 59.
[13] Goleman, 59.
[14] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,  (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), 67.

No comments:

Post a Comment