Thursday, March 17, 2016

Efektifitas Metode Learning By Doing Untuk Pengembangan Emotional Intellegence (Part 2)

A.      Kegunaan Hasil Penelitan
Dengan adanya penelitian ini, maka  hasil penelitian bisa bermanfaat secara teoritis maupun praktis, yaitu ::
1.    Teoretis
Memberikan kontribusi dalam khazanah keilmuan tentang efektifitas metode learning by doing  dalam pengembangan emotional intelligence, serta dapat dikembangkan dalam penelitian-penelitian selanjutnya.


2.    Praktis
Secara praktis penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
Adapun manfaat praktis yang diperoleh dalam penelitian ini diantaranya dapat bermanfaat bagi:
a.    Kepala RA
Sebagai masukan bagi kepala RA untuk memantau penggunaan metode pembelajaran yang tepat sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif.
b.    Guru
Sebagai masukan bagi guru dalam mengembangkan emotional intellegensi dengan menggunakan metode learning by doing sehingga perlu memasukkan metode tersebut ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada pembelajaran-pembelajaran berikutnya.
c.    Siswa
Sebagai motivator untuk lebih berani melakukan sesuatu yang baru baik ketika di sekolah maupun di rumah.
d.   Sekolah Tinggi Agama Islam Pati
Menambah  referensi disiplin ilmu yang ada pada perpustakaan Sekolah Tinggi Agama Islam Pati.
B.       Telaah Pustaka
Dalam telaah pustaka ini peneliti mendeskripsikan beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti terdahulu yang ada relevansinya dengan judul skripsi ini. Adapun karya-karya skripsi tersebut adalah:
Pertama, skripsi karya Sholihatul Karimah mahasiswa Universitas Wahid Hasyim Semarang, dengan judul ”Pengaruh Penerapan Metode Simulasi Terhadap Hasil Belajar PAI Bab Shalat di SD Negeri 01 Kalikalong Tayu Pati Tahun Pelajaran 2008/2009”. Berdasarkan kesimpulan dari skripsi tersebut dapat dikemukakan bahwa penerapan metode simulasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa bab shalat pada mata pelajaran PAI. Hal ini dibuktikan dari hasil analisis statistik dengan menggunakan rumus regresi yang menunjukkan taraf signifikansi pada taraf  5 % ataupun 1 %. Di mana besarnya Fhit  yaitu 45,113,  kemudian dibandingkan dengan F tabel dengan df = 2 : 33, untuk  taraf signifikansi 1% = 5,34  dan  untuk taraf signifikansi  5 % = 3,30.  Sehingga Fhit  > F tabel 5 % dan Ft 1 %.[1]
Penelitian di atas menekankan penerapan metode simulasi, sedangkan pada penelitian yang akan peneliti lakukan adalah penggunaan metode learning by doing. Dalam penelitian yang akan peneliti laksanakan menekankan pada upaya peningkatan emotional intellegence, sedangkan pada penelitian di atas menekankan pada peningkatan hasil belajar PAI bab shalat.
Kedua, skripsi karya Siti Nur Aini (NIM. 108352), dengan judul ”Upaya Meningkatkan Keterampilan Wudhu Melalui Metode Simulasi Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas II Sekolah Dasar Negeri Ngawen Pati Tahun Pelajaran 2011/2012”. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa metode simulasi dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan wudhu peserta didik kelas II Sekolah Dasar Negeri Ngawen 02 Pati Tahun Pelajaran 2011/2012”. Hal ini ditunjukkan dari beberapa temuan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu: nilai ketuntasan hasil belajar siswa pada keterampilan berwudhu pada mata pelajaran PAI Kelas II dari pra siklus sampai siklus II mengalami peningkatan. pada pra siklus, yaitu sebelum peneliti melakukan tindakan adalah sebesar 46,87%. Pada siklus I sebesar 68,75% atau mengalami peningkatan sebesar 21,88% dari para siklus. Sedangkan pada siklus II mencapai nilai 84,37% atau mengalami kenaikan sebesar 15,62% dari siklus I. Hal ini sesuai dengan indikator pencapaian yaitu minimal nilai ketuntasan mencapai 80%.[2]
Berbeda dengan penelitian terdahulu, penelitian ini lebih difokuskan pengembangan emotional intellegence dengan menggunakan metode learning by doing, sedanngkan pada penelitian terdahulu menekankan peningkatkan keterampilan wudhu melalui metode simulasi.
Ketiga, skripsi Ansori NIM  106032 mahasiswa  jurusan Tarbiyah STAI Pati tahun 2010 yang berjudul “Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Keberagamaan Remaja Masjid (IREMA) Desa Margorejo Kec. Margorejo Kab. Pati Tahun 2010”. Fokus pada penelitian Ansori adalah meneliti hubungan kecerdasan emosional remaja  masjid di desa Margorejo dengan keberagamaannya.


Hasilnya  penelitiannya yaitu ada hubungan yang positif serta signifikan antara kecerdasan emosional dengan keberagaaman Remaja Masjid (IREMMA) Desa Margorejo Kec. Margorejo Kab. Pati pada taraf signifkansi 5% maupun 1%. Hal tersebut dapat dilihat pada nilai r observasi sebesar 0,547 dan berada diatas r tabel dengan batas penolakan 5% sebesar 0,361.  Dan  juga r observasi berada di atas harga r tabel pada taraf signifikansi 1% sebesar 0,462.[3]
Perbedaannya dengan skripsi diatas yaitu pada pengaruh kecerdasan emosional, sedangkan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah pada pengembangan kecerdasan emosi atau emotional intelligence.
Jadi skripsi dengan judul “Efektifitas Metode Learning By Doing untuk Pengembangan  Emotional Intelligence di RA. Maslakul Falah Desa Arumanis Kec. Jaken Kab. Pati Tahun Pelajaran 2014/2015 belum ada yang meneliti dan layak untuk dijadikan judul skripsi guna menyelesaikan studi Strata Satu.


C.      Kerangka Teori dan Hipotesis
1.      Kerangka Teori
a.      Metode Pembelajaran
1)      Pengertian Metode Pembelajaran
Zakiah Daradjat mengemukakan bahwa metode adalah suatu cara kerja yang sistematik dan umum.[4]  Sedangkan Ahmad Sabri mengemukakan bahwa metode pembelajaran adalah cara-cara atau teknik penyajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guru pada saat menyajikan bahan pelajaran, baik secara individual atau secara kelompok.[5]
Dengan demikian, metode adalah seperangkat cara, jalan dan teknik yang digunakan oleh pendidik dalam proses pembelajaran agar peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran atau menguasai kompetensi tertentu yang dirumuskan dalam silabus mata pelajaran.
Adapun mengenai pengertian pembelajaran, Moh. Uzer Usman mengemukakan bahwa pembelajaran adalah suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar interaksi timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.[6]
Berdasarkan dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah suatu cara atau jalan yang ditempuh yang sesuai dan serasi untuk menyajikan suatu materi pelajaran sehingga akan tercapai suatu tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien sesuai yang diharapkan.
2)      Pentingnya Metode Pembelajaran
Saiful Bahri Jamarah mengemukakan bahwa metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar metode diperlukan oleh guru dan pengunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Seorang tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila tidak menguasai satupun metode mengajar yang dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikologi dan pendidikan.[7]
Bisa difahami bahwa begitu pentingnya metode pembelajaran sehingga mutlak diperlukan oleh pendidik dalam proses belajar mengajar supaya tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Saiful Bahri Jamarah mengungkapkan bahwa system dalam suatu kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi pembelajaran.[8]
Selain itu beliau juga menjelaskan bahwa salah satu usaha yang tidak pernah ditinggalkan adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Kerangka berfikir yang demikian bukanlah suatu hal yang aneh tapi nyata, dan memang betul-betul dipikirkan oleh seorang guru.[9]
Begitulah pentingnya kedudukan metode pembelajaran yang tidak dapat disepelekan oleh pendidik sebab merupakan komponen yang sangat vital dalam suatu proses belajar mengajar. Karena keberhasilan pembelajaran tidak bisa lepas dari peran metode yang dipergunakan oleh pendidik.
b.      Metode Learning by Doing
1)      Pengertian Metode Learning by Doing
Learning by doing menurut John Dewey adalah belajar melalui perbuatan langsung yang dilakukan siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok. [10]
Pembelajaran yang dimaksud Dewey adalah siswa langsung mempraktekan apa yang ada pada materi pelajaran baik secara individu mapun berkelompok.
Dengan begitu bisa difahami bahwa metode learning by doing artinya adalah metode pembelajaran dengan cara siswa diajak untuk melakukan, melihat, mendengar, merasakan secara langsung objek yang sedang dipelajari, dengan kata lain mempraktekkannya, sehingga siswa memahaminya sampai pada tingkatan haqqul yakin (pemahaman yang sejelas-jelasnya).
2)      Bentuk-bentuk Metode Learning by Doing
Syaiful Bahari Djamarah menyatakan bahwa interaksi edukatif selayaknya dibangun guru berdasarkan penerapan aktivitas anak didik, yaitu belajar sambil melakukan (learning by doing). Selain itu, melakukan aktivitas atau bekerja adalah bentuk pernyataan dari anak didik bahwa pada hakekatnya belajar adalah perubahan yang terjadi setelah melakukan aktivitas atau bekerja. Pada kelas-kelas rendah di Sekolah Dasar, aktivitas ini dapat dilakukan sambil bermain sehingga anak didik akan aktif, senang, gembira, kreatif serta tidak mengikat.[11]
Kata Dewey, seperti yang dikutip Muis Sad Iman, makna istilah Learning by Doing adalah anak harus bersama-sama, menyelidiki dan mengamati sendiri, berfikir dan menarik kesimpulan sendiri, membangun dan menghiasi sendiri sesuai dengan insting yang ada padanya. Tampaklah disini anak belajar sambil bekerja dan bekerja sambil belajar.[12]
Dari penjelasan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa bentuk pembelajaran dengan metode learning by doing yaitu dengan cara anak melakukan secara langsung sehingga bisa mengamati hal-hal yang menjadi pokok pembelajaran.
Ada beberapa metode dan model pembelajaran yang menekankan pada pengalaman siswa secara langsung, diantaranya adalah:
a)      Metode Proyek
Metode proyek  didasarkan pada gagasan John Dewey tentang “learning by doing”, metode ini sangat mungkin diterapkan karena  metode proyek merupakan salah satu cara pemberian pengalaman belajar dengan menghadapkan anak pada persoalan sehari-hari untuk dipecahkan secara kelompok.[13]
Dalam pelaksanaanya, metode proyek memposisikan guru sebagai fasilitator yang harus  menyediakan alat dan bahan untuk melaksanakan “proyek” yang berorientasi pada kebutuhan dan minat anak dan menantang anak untuk mencurahkan segala kemampuan, keterampilan serta kreativitasnya. Selain itu guru harus menciptakan situasi yang  mengandung makna penting untuk mengembangkan potensi anak, perluasan minat serta pengembangan kreativitas dan tanggung jawab, baik secara perseorangan maupun kelompok.


b)     Metode Eksperimen
Metode eksperimen juga termasuk metode yang menggunakan  pendekatan learning by doing, karena metode eksperimen merupakan cara pengajaran dimana guru dan murid bersama-sama melakukan suatu latihan atau percobaan untuk mengetahui pengaruh atau akibat dari suatu aksi.[14] Misal mencangkok pohon jeruk, beternak ayam  buras.
c)      Metode Karya Wisata
Metode karya wisata adalah suatu cara penguasaan bahan pelajaran  oleh para anak didik dengan jalan membawa mereka langsung ke objek yang terdapat di luar kelas atau di lingkungan kehidupan nyata, agar mereka dapat mengamati ataupun mencermati secara langsung.[15] Dengan penerapan metode ini anak akan lebih memahami situasi yang sebenarnya. Sehingga apa yang menjadi bahan pelajaran akan langsung dapat dicerna oleh peserta didik.
Keterlibatan siswa dalam pembelajaran tidak hanya sebatas fisik semata, tetapi lebih dari itu terutama adalah keterlibatan mental emosional, keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan, penghayatan dan internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai, dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan ketrampilan.[16]
Pada aspek lain guru juga mengkondisikan anak didik dengan menggunakan bentuk-bentuk pengajaran dalam konteks learning by doing, diantaranya:
a)      Menumbuhkan motivasi belajar anak
Motivasi berkaitan erat dengan emosi, minat, dan kebutuhan anak didik. Upaya menumbuhkan motivasi intrinsik yang dilakukan guru adalah mendorong rasa ingin tahu, keinginan mencoba, dan sikap mandiri anak didik, sedangkan bentuk motivasi ekstrinsik adalah dengan memberikan rangsangan berupa pemberian nilai tinggi atau hadiah bagi siswa berprestasi dan sebaliknya.
b)     Mengajak anak didik beraktivitas
Adalah proses interaksi edukaktif melibatkan intelek-emosional anak didik untuk meningkatkan aktivitas dan motivasi akan meningkat. Bentuk pelaksanaanya adalah mengajak anak didik melakukan aktivitas atau bekerja di laboratorium, di kebun/lapangan sebagai bagian dari eksplorasi pengalaman, atau mengalami pengalaman yang sam sekali baru.


c)      Mengajar dengan memperhatikan perbedaan individual
Proses kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan memahami kondisi masing-masing anak didik. Tidak tepat jika guru menyamakan semua anak didik karena setiap anak didik mempunyai bakat berlainan dan mempunyai kecepatan belajar yang bervariasi. Seorang anak didik yang hasil belajarnya jelek dikatakan bodoh. Kemudian menyimpulkan semua anak didik yang hasil belajarnya jelek dikatakan bodoh. Kondisi demikian tidak dapat dijadikan ukuran, karena terdapat beberapa faktor penyebab anak memiliki hasil belajar buruk, antara lain; faktor kesehatan, kesempatan belajar dirumah tidak ada, sarana belajar kurang, dan sebagainya.
d)     Mengajar dengan umpan balik
Bentuknya antara lain; umpan balik kemampuan prilaku anak didik (perubahan tigkah laku yang dapat dilihat anak didik lainnya, pendidik atau anak didik itu sendiri), umpan balik tentang daya serap sebagai pelajaran untuk diterapkan secara aktif. Pola prilaku yang kuat diperoleh melalui partisipasi dalam memainkan peran (role play).
e)      Mengajar dengan pengalihan
Pengajaran yang mengalihkan (transfer) hasil belajar kedalam situasi-situasi nyata. Guru memilih metode simulasi (mengajak anak didik untuk melihat proses kegiatan seperti cara berwudlu dan sholat) dan metode proyek (memberikan kesempatan anak untuk menggunakan alam sekitar dan atau kegiatan sehari-hari untuk bertukar pikiran baik sesama kawan maupun guru)  untuk pengalihan pengajaran yang bukan hanya bersifat ceramah atau diskusi, tetapi mengedepankan situasi nyata.
f)       Penyusunan pemahaman yang logis dan psikologis
Pengajaran dilakukan dengan memilih metode yang proporsional. Dalam kondisi tertentu guru tidak dapat meninggalkan metode ceramah maupun metode pemberian tugas kepada anak didik. Hal ini dilakukan sesuai dengan kondisi materi pelajaran.[17]
3)      Cara Menerapkan Metode Learning by Doing
Pada pembelajaran anak RA, suatu pengalaman menjadi faktor yang tak terpisahkan. Pendidikan bagi anak RA harus diintegrasikan dengan lingkungan kehidupan anak yang banyak menghadapkan dengan pengalaman langsung. Lingkungan kehidupan anak dalam kelompok, banyak memberikan pengalaman bagaimana cara melakukan sesuatu yang terdiri dari serangkaian tingkah laku.[18]


Metode Learning by Doing sangat tepat diterapkan, karena metode tersebut merupakan salah satu cara pemberian pengalaman belajar dengan menghadapkan anak dengan persoalan sehari-hari untuk dipecahkan secara kelompok.[19]
Adapun langkah-langkah yang dilaksanakan dalam pembelajaran dengan menggunakan metode learning by doing  adalah sebagai berikut:[20]

No.
Langkah
Jenis Kegiatan
1.
Persiapan
1.     Menciptakan kondisi belajar siswa untuk melaksanakan metode pembelajaran learning by doing dengan:
-          Menyediakan alat-alat peraga
-          Lokasi pembelajaran
2.
Pelaksanaan
2.     Mengajukan masalah kepada siswa.
Melaksanakan pembelajaran:
-          Menjeaskan sutu prosedur atau proses.
-          Usahakan seluruh siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.
-          Menghentikan metode learning by doing, kemudian mengadakan tanya jawab dengan siswa.
3.
Evaluasi/tindak
3.     Memberi kesempatan kepada siswa untuk melanjutkan sendiri pembelajaran.
4.     Membuat kesimpulan hasil pembelajaran.
5.     Mengajukan pertanyaan kepada siswa.

4)      Kelebihan  Metode Learning by Doing
Proses pembelajaran menggunakan metode learning by doing waktunya bisa cepat atau lambat tergantung dari kemampuan siswa untuk adaptasi maupun menyerap. Jika pelajaran yang dihadapi kebetulan tidak disukai, tapi karena terpaksa, maka proses pembelajaran akan lambat terserap. Namun, kalau kebetulan pelajaran yang digeluti adalah yang disukai, maka proses pembelajaran akan cepat terserap dan dalam jangka tertentu dan dalam tahapan-tahapan berikutnya bisa masuk dalam kategori cerdas.[21]
Selain itu, metode learning by doing memberikan banyak keuntungan lainnya, diantaranya:


a)      Peserta  didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
b)      Peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama;
c)      Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
d)     Kompetensi  dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi peserta didik;
e)      Peserta didik lebih mampu merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;
f)       Peserta didik mampu lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;
g)      Guru  dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.[22]
Itulah kelebihan pembelajaran dengan metode learning by doing, dimana peserta didik akan lebih bersemangat dalam proses belajar mengajar karena adanya keterlibatan langsung dengan situasi dan kondisi yang sebenarnya.


[1]Sholihatul Karimah, Pengaruh Penerapan Metode Simulasi Terhadap Hasil Belajar PAI Bab Shalat di SD Negeri 01 Kalikalong Tayu Pati Tahun Pelajaran 2008/2009, Skripsi, (Semarang: Universitas Wahid Hasyim Semarang, 2009).
[2] Siti Nur Aini, Upaya Meningkatkan Keterampilan Wudhu Melalui Metode Simulasi Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas II Sekolah Dasar Negeri Ngawen Pati Tahun Pelajaran 2011/2012, Skripsi, (Pati: STAI Pati, 2011).
[3] Ansori, “Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Keberagamaan Remaja Masjid (IREMA) Desa Margorejo Kec. Margorejo Kab. Pati Tahun 2010”, Skripsi, STAI Pati, 2010, 80-81.
[4] Zakiah Daradjat, dkk., Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 1.
[5] Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching, (Jakarta: Quantum Teaching, 2005), hlm. 52.
[6] Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2008), hlm. 4.
[7] Saiful Bahri Jamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), 46.
[8] Saiful Bahri Jamarah dan Aswan Zain, 41.
[9] Saiful Bahri Jamarah dan Aswan Zain, 72.
[10] Sumadi Suryobroto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo  Persada, 1984), 247.
[11] Syaiful Bahari Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), 186.
[12] Muis Sad Iman, Pendidikan Partisipatif: Menimbang Konsep Fitrah dan Progresivisme John Dewey, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004), 73-74.
[13] Moeslichatoen R., Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak (Jakarta: Rineka Cipta,1999), 137.
[14] M. Basyiruddin Usman, Metodolog Pembelajaran Islam (Jakarta: Ciputat Press, 2002), 45.
[15] Syaiful Bahari Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif , 240.
[16] Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta,  2002), 46.
[17] Syaiful Bahari Djamarah, Guru dan Anak Didik., 186-187.
[18] Conny Semiawan, dkk., Pengenalan Dan Pengembangan Bakat Sejak Dini (Bandung: Remaja Rosda Karya,1995), 52.
[19] Moeslichatoen R, Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), 137.
[20] Saiful Bahri Jamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006), 101.
[21] http://smktelkomdu.sch.id/berita-110-learning-by-doing-lebih-mudah-dipahami.Html /23/2/2014.
[22] http://tarmizi.wordpress.com/2008/12/04/model-pembelajaran-tematik-kelebihan-dan-kelemahannya/23/2/2014.

No comments:

Post a Comment